Thursday, November 7, 2013

AURAT

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 7:04 PM 0 comments
Ibnu Abbas pernah bertanya kepada ‘Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” 
“Ya,” jawab ‘Atha. Ia berkata, “Wanita berkulit hitam itu. Dia pernah datang kepada Nabi saw., lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku sering tersingkap (saat penyakitnya kambuh, peny.). Karena itu doakanlah aku agar Allah menyembuhkan penyakitku.’ Nabi saw. berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkan dirimu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku memilih bersabar saja. Namun, tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku sering tersingkap. Karena itu doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Lalu Nabi saw. pun mendoakan wanita itu.” (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Pembaca yang budiman, khususnya wanita Muslimah, penyakit ayan bukanlah penyakit ringan. Selain susah sembuh dan sering kambuh, penyakit ini bisa mengundang aib bagi penderitanya maupun keluarganya. Apalagi jika penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung penderita penyakit ayan dan keluarganya karena banyak orang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan. Namun, renungkanlah perkataan wanita berkulit hitam penghuni surga dalam riwayat di atas. Apakah kita menyaksikan satu kata saja meluncur dari lisannya yang menunjukkan bahwa ia membenci qadha’—yakni penyakit ayan —yang kebetulan menimpa dirinya? Apakah ia mengeluhkan penyakit ayan yang ia derita? Apakah ia merasa malu karena menderita penyakit tersebut? Tidak! Bukan itu yang ia keluhkan. Bukan itu yang membuat ia malu. Ia mengeluh dan merasa malu karena auratnya sering tersingkap saat penyakitnya kambuh. Padahal saat penyakit ayan itu datang, ia tentu dalam keadaan tak sadar. Jika pun tersingkap auratnya dalam keadaan tidak sadar alias hilang akal, tentu ia tidak berdosa. Namun, demikianlah penghuni surga. Wanita berkulit hitam ini tetap sangat khawatir bila auratnya tersingkap meski dalam keadaan sakit dan tidak sadar. Bagaimana dengan kebanyakan wanita zaman sekarang, yang saat sehat dan dalam keadaan sadar pun, rela bahkan acapkali bangga memamerkan aurat mereka? 

Sebagaimana wanita berkulit hitam penghuni surga dalam riwayat di atas, pada zaman dulu para shahabiyah adalah wanita yang amat menjaga kehormatan dan aurat mereka. Para shahabiyah adalah para wanita yang memiliki rasa malu yang tinggi. Ummul Mukminin Aisyah ra., istri Rasulullah saw., bahkan mempunyai rasa malu yang luar biasa. Setelah Rasulullah saw. wafat, Aisyah ra. terbiasa berziarah ke makam beliau, yang berada di dalam kamarnya, tanpa mengenakan hijab. Ketika ayah beliau, Abu Bakar ra., wafat dan dikebumikan di sebelah makam Rasulullah saw., Aisyah ra. masih leluasa berziarah tanpa mengenakan hijab. Namun, kebiasaan itu berubah ketika Umar bin al-Khaththab ra. dikuburkan di kamarnya bersebelahan dengan makam Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. Setiap kali masuk ruangan itu, Aisyah ra. mengenakan hijab secara sempurna. Itu ia lakukan karena Umar ra. bukanlah mahram-nya. Padahal Umar ra. telah meninggal dan jasadnya terkubur di dalam tanah (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur. Beirut: Dar ar-Rasyid, 1916). Sama dengan Ummul Mukminin Aisyah ra., Sayyidah Fatimah az-Zahra ra., putri Rasulullah saw., juga memiliki rasa malu yang luar biasa. Beliaulah orang pertama yang meminta dibuatkan keranda agar saat meninggal dan dibawa ke kuburan, jenazahnya diletakkan di dalam keranda tersebut. Pada waktu itu, umumnya jenazah memang diusung oleh orang-orang tanpa keranda, seperti yang kita kenal hari ini. Suatu saat Fatimah binti Rasulullah merasa bahwa ajalnya telah dekat. Pasalnya, Rasulullah saw., pernah mengatakan kepada dirinya bahwa ia adalah anggota keluarga beliau yang pertama kali wafat menyusul beliau. Putri Rasulullah saw. yang juga istri Ali Bin Abi Thalib ini lalu berpesan kepada Asma’ binti Umais, yang hampir setiap hari menjenguk dirinya. “Saya tidak senang atas apa yang diperbuat terhadap wanita jika meninggal. Jenazah mereka hanya ditutupi dengan kain kafan sehingga lekuk tubuhnya terlihat,” kata Fatimah kepada Asma’, putri Abu Bakar ash-Shiddiq. “Apakah engkau mau aku tunjukkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?” ujar Asma’. Asma’ lalu membuat semacam keranda. Kerangkanya terbuat dari pelepah kurma, sedangkan bagian luarnya ditutup dengan kain. Dengan begitu, jenazah yang dibawa dengan keranda itu tidak terlihat dari luar. Begitu Fatimah melihat keranda itu, ia sangat gembira hingga tertawa. Ia lalu berpesan, “Nanti, jika aku meninggal, kamu dan suamiku, Ali, yang memandikan aku. Jangan ada orang lain yang ikut memandikan aku. Setelah itu, buatkan keranda seperti itu untuk diriku.” (HR adz-Dzhabi dalam Syiar A’la an-Nubala, dari penuturan Qutaibah bin Said dan Ja’far ra.). Demikianlah, sebagaimana penututuran Ibnu Abdil Barr, ‘’Fathimah ra. adalah orang pertama yang saat meninggal dimasukkan ke dalam keranda pada masa Islam.’’ 

Demikianlah Ummul Mukminin Siti Aisyah ra. Ia tetap merasa malu jika tidak mengenakan hijab meski di hadapan jasad Umar bin al-Khaththab ra. yang sudah terbujur kaku di dalam tanah. Demikian pula putri Rasulullah saw., Fatimah az-Zahra ra. Ia tetap merasa khawatir jika—dalam keadaan sudah terbujur kaku menjadi jenazah sekalipun—terlihat lekuk tubuhnya. Bagaimana dengan kebanyakan wanita zaman sekarang? Sayang sekali, mereka bukan saja tidak malu tersingkap auratnya. Mereka bahkan acapkali merasa bangga memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya. Kebanggaan mereka semakin bertambah saat bisa ikut serta dalam ajang lomba kontes kecantikan—semacam #MissWorld—yang hakikatnya adalah ‘kontes aurat’. Mereka tak pernah merasa khawatir terhadap ancaman Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya, “Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, berlenggak-lengkok dan kepala mereka seperti punuk unta tidak akan masuk surga ataupun sekadar mencium baunya.” (HR Abu Daud). Na’udzu bilLahi min dzalik!

 [Arief B. Iskandar]

Cintaku

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 6:08 PM 0 comments
Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir dan pembawa ajaran Islam. Nama "Muhammad" dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Ajaran Nabi Muhammad SAW (Islam) merupakan penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.

Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan.

Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi Muhammad SAW tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim AS kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa AS.

Allah SWT menyampaikan salawatnya kepada Nabi Muhammad SAW itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan salawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bersalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)

Sebelumnya Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT mengutus baginda SAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Baginda SAW datang dengan membawa rahmat yang mutlak untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman.

Allah SWT berfirman, "Dan aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta."

Wednesday, November 6, 2013

Dari hati

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 8:21 PM 0 comments
Betapa mudahnya mencari kawan dizaman serba canggih ni..
Buat je akaun FB, beribu orang kita boleh add..
Tapi sangat sukar untuk mendapat kawan yang ikhlas dan jujur, yang menyayangi kita dengan sepenuh hati..
Kawan yang sanggup menegur jika kita tersilap langkah..
kawan yang boleh marah kita in the same time tak menjatuhkan kita..

Alhamdulillah, saya ada beberapa orang kawan yang boleh dikategorikan sebagai sahabat sejati.
yang saya anggap sebagai keluarga sendiri..
Hari ni nak cerita tentang 2 orang daripada mereka..

Perkenalan bermula bila kami sama2 terpilih menjadi exco PGSS-FPPSM.. 
Kami bersepuluh dalam satu bahtera, berganding bahu menyemai bakti..
Awalnya memang xkenal langsung, meeting pertama pun ala2 formal sangat..
Tapi siapa sangka kami menjadi rapat menjelang meeting kedua.
perancangan Allah sangat indah..
Walaupun jurang usia agak ketara, tapi usia bukan penghalang.. jiwa mereka muda remaja :)

Nak cerita in details, 3 hari 3 malam pun tak cukup.. 
diringkaskan, mereka kawan yang jujur..
Even masuk universiti ni sorang2, tapi lepas kenal mereka hilang rasa keseorangan.
mereka macam kak long dan kak ngah, sangat menjaga saya (kadang2 rasa macam puteri lilin yang dijaga dengan rapi).
suka, duka, tawa, tanggis, semuanya bersama.
kesimpulannya, 


The friendship we have is so rare to find,
We hate to see each other in a bind.

We have made each other laugh so hard we've cried,
We feel each other's pain if we are hurt inside.
We always can find the right words to say,
To help us get through any dreadful day.
We have told our darkest secrets, with feeling no shame,
We will tell each other the truth even if we are to blame.
Thinking of you not being here makes me feel so sad,
We will have to look back on our crazy memories to make us glad.
The Miles between us can't keep us apart,
Because we will keep each other close at heart.


kakak dua orang ni bukan macam orang lain yang mengejar kejayaan sorg2, mereka nak mengecapi kejayaan, tapi bersama2..

Actually, saat ni saya sangat merindui mereka.. Rasa mcm da bertahun x berhubung..
Semoga mereka selamat sejahtera walau dimana pun berada..



                                  Pic last time jumpa.. 
 

The Pieces Of Life Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal