Showing posts with label knowledge. Show all posts
Showing posts with label knowledge. Show all posts

Wednesday, November 27, 2013

Aurat ketika bersalin

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 6:22 PM 0 comments
Ringkasan dari "AURAT KETIKA BERSALIN" dari Semanis Kurma TV9:

1. Suami WAJIB pelihara aurat dan maruah isteri dalam apa jua keadaan.
2. Dari awal disahkan hamil, pemeriksaan PERLU dijaga dalam hal aurat.
3. WAJIB mendahulukan doktor perempuan.
4. MENTAATI Allah dengan sebaiknya dan meninggalkan segala yang terlarang.
5. JANGAN ambil mudah dalam soal proses kelahiran.

Lagi satu pesanan 'mereka' dalam Semanis Kurma TV9... dlm keadaan isteri dh SAKIT sangat, hilang punca, tak boleh berpikir maka :-

1. PERANAN SUAMI sgt3 penting dan mustahak... suami yg kena bt keputusan utk aurat dan maruah isteri . if suami sndr tak mampu nk bertegas utk bt pilihan, amat mgecewakan (mrujuk kepada dlm keadaan yg tidak darurat serta masih ada pilihan.)

2. Suami WAJIB jaga & pelihara aurat isteri ketika dalam wad dll,jgn dh msk wad semua terbang, tudung x pakai, kain terselak sana-sini, baju blengan pendek shj, myusu ikut dan. sbb kena ingt kkdg da juga staff lelaki, pemberi mknn yg lelaki dll yg kuar msk wad

3. WAJIB ada MAHRAM temankan ketika dtgnya darurat yg mgizinkan aurat terbuka.
1)SUAMI
2)SAUDARA PEREMPUAN
3)Nurse perempuan dan seterusnya.

Namun keutamaan adalah SUAMI.

Ini TITIPAN sayang buat semua WANITA dari pengalaman sendiri:

1. NIAT- Niat dari AWAL even sebelum disahkan hamil ingin bersalin dengan disambut oleh doktor perempuan atau bidan wanita.

2. DOA - ISTIQOMAH dari remaja juga boleh - Doa moga Allah pelihara aurat dan maruah kita sekalipun dalam keadaan darurat khususnya kita wanita ketika saat kelahiran bayi.

3. AMALAN - Selarikan dengan niat dan doa- pemeriksaan ibu mengandung, scan baby dsbnya WAJIB dilakukan dengan doktor perempuan dan bukan doktor lelaki. Malah jaga aurat dlam berpakaian juga selama mana bergelar muslim. Apa sekalipun berusaha dengan kudrat kita.. Allah akan hitung tindakan kita.

4. YAKIN - Insyaallah - bilaman kita telah KUAT berusaha seperti di atas PASTInya DIA bantu kita, pelihara aurat dan maruah kita maruah suami.

p/s : Moga Allah terus pelihara AURAT & MARUAH kita semua untuk proses kelahiran yang seterus-seterusnya. Untuk yang telah berlalu dlm keadaan tidak mampu BERTEGAS, TIDAK cukup bersedia dsbnya maka bartaubat dan muhasabah diri. Insyaallah DIA murah dengan keampunan.


Sumber: semanis kurma Tv9

Thursday, November 7, 2013

AURAT

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 7:04 PM 0 comments
Ibnu Abbas pernah bertanya kepada ‘Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” 
“Ya,” jawab ‘Atha. Ia berkata, “Wanita berkulit hitam itu. Dia pernah datang kepada Nabi saw., lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku sering tersingkap (saat penyakitnya kambuh, peny.). Karena itu doakanlah aku agar Allah menyembuhkan penyakitku.’ Nabi saw. berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkan dirimu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku memilih bersabar saja. Namun, tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku sering tersingkap. Karena itu doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Lalu Nabi saw. pun mendoakan wanita itu.” (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Pembaca yang budiman, khususnya wanita Muslimah, penyakit ayan bukanlah penyakit ringan. Selain susah sembuh dan sering kambuh, penyakit ini bisa mengundang aib bagi penderitanya maupun keluarganya. Apalagi jika penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung penderita penyakit ayan dan keluarganya karena banyak orang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan. Namun, renungkanlah perkataan wanita berkulit hitam penghuni surga dalam riwayat di atas. Apakah kita menyaksikan satu kata saja meluncur dari lisannya yang menunjukkan bahwa ia membenci qadha’—yakni penyakit ayan —yang kebetulan menimpa dirinya? Apakah ia mengeluhkan penyakit ayan yang ia derita? Apakah ia merasa malu karena menderita penyakit tersebut? Tidak! Bukan itu yang ia keluhkan. Bukan itu yang membuat ia malu. Ia mengeluh dan merasa malu karena auratnya sering tersingkap saat penyakitnya kambuh. Padahal saat penyakit ayan itu datang, ia tentu dalam keadaan tak sadar. Jika pun tersingkap auratnya dalam keadaan tidak sadar alias hilang akal, tentu ia tidak berdosa. Namun, demikianlah penghuni surga. Wanita berkulit hitam ini tetap sangat khawatir bila auratnya tersingkap meski dalam keadaan sakit dan tidak sadar. Bagaimana dengan kebanyakan wanita zaman sekarang, yang saat sehat dan dalam keadaan sadar pun, rela bahkan acapkali bangga memamerkan aurat mereka? 

Sebagaimana wanita berkulit hitam penghuni surga dalam riwayat di atas, pada zaman dulu para shahabiyah adalah wanita yang amat menjaga kehormatan dan aurat mereka. Para shahabiyah adalah para wanita yang memiliki rasa malu yang tinggi. Ummul Mukminin Aisyah ra., istri Rasulullah saw., bahkan mempunyai rasa malu yang luar biasa. Setelah Rasulullah saw. wafat, Aisyah ra. terbiasa berziarah ke makam beliau, yang berada di dalam kamarnya, tanpa mengenakan hijab. Ketika ayah beliau, Abu Bakar ra., wafat dan dikebumikan di sebelah makam Rasulullah saw., Aisyah ra. masih leluasa berziarah tanpa mengenakan hijab. Namun, kebiasaan itu berubah ketika Umar bin al-Khaththab ra. dikuburkan di kamarnya bersebelahan dengan makam Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. Setiap kali masuk ruangan itu, Aisyah ra. mengenakan hijab secara sempurna. Itu ia lakukan karena Umar ra. bukanlah mahram-nya. Padahal Umar ra. telah meninggal dan jasadnya terkubur di dalam tanah (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur. Beirut: Dar ar-Rasyid, 1916). Sama dengan Ummul Mukminin Aisyah ra., Sayyidah Fatimah az-Zahra ra., putri Rasulullah saw., juga memiliki rasa malu yang luar biasa. Beliaulah orang pertama yang meminta dibuatkan keranda agar saat meninggal dan dibawa ke kuburan, jenazahnya diletakkan di dalam keranda tersebut. Pada waktu itu, umumnya jenazah memang diusung oleh orang-orang tanpa keranda, seperti yang kita kenal hari ini. Suatu saat Fatimah binti Rasulullah merasa bahwa ajalnya telah dekat. Pasalnya, Rasulullah saw., pernah mengatakan kepada dirinya bahwa ia adalah anggota keluarga beliau yang pertama kali wafat menyusul beliau. Putri Rasulullah saw. yang juga istri Ali Bin Abi Thalib ini lalu berpesan kepada Asma’ binti Umais, yang hampir setiap hari menjenguk dirinya. “Saya tidak senang atas apa yang diperbuat terhadap wanita jika meninggal. Jenazah mereka hanya ditutupi dengan kain kafan sehingga lekuk tubuhnya terlihat,” kata Fatimah kepada Asma’, putri Abu Bakar ash-Shiddiq. “Apakah engkau mau aku tunjukkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?” ujar Asma’. Asma’ lalu membuat semacam keranda. Kerangkanya terbuat dari pelepah kurma, sedangkan bagian luarnya ditutup dengan kain. Dengan begitu, jenazah yang dibawa dengan keranda itu tidak terlihat dari luar. Begitu Fatimah melihat keranda itu, ia sangat gembira hingga tertawa. Ia lalu berpesan, “Nanti, jika aku meninggal, kamu dan suamiku, Ali, yang memandikan aku. Jangan ada orang lain yang ikut memandikan aku. Setelah itu, buatkan keranda seperti itu untuk diriku.” (HR adz-Dzhabi dalam Syiar A’la an-Nubala, dari penuturan Qutaibah bin Said dan Ja’far ra.). Demikianlah, sebagaimana penututuran Ibnu Abdil Barr, ‘’Fathimah ra. adalah orang pertama yang saat meninggal dimasukkan ke dalam keranda pada masa Islam.’’ 

Demikianlah Ummul Mukminin Siti Aisyah ra. Ia tetap merasa malu jika tidak mengenakan hijab meski di hadapan jasad Umar bin al-Khaththab ra. yang sudah terbujur kaku di dalam tanah. Demikian pula putri Rasulullah saw., Fatimah az-Zahra ra. Ia tetap merasa khawatir jika—dalam keadaan sudah terbujur kaku menjadi jenazah sekalipun—terlihat lekuk tubuhnya. Bagaimana dengan kebanyakan wanita zaman sekarang? Sayang sekali, mereka bukan saja tidak malu tersingkap auratnya. Mereka bahkan acapkali merasa bangga memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya. Kebanggaan mereka semakin bertambah saat bisa ikut serta dalam ajang lomba kontes kecantikan—semacam #MissWorld—yang hakikatnya adalah ‘kontes aurat’. Mereka tak pernah merasa khawatir terhadap ancaman Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya, “Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, berlenggak-lengkok dan kepala mereka seperti punuk unta tidak akan masuk surga ataupun sekadar mencium baunya.” (HR Abu Daud). Na’udzu bilLahi min dzalik!

 [Arief B. Iskandar]

Cintaku

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 6:08 PM 0 comments
Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir dan pembawa ajaran Islam. Nama "Muhammad" dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Ajaran Nabi Muhammad SAW (Islam) merupakan penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.

Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan.

Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi Muhammad SAW tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim AS kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa AS.

Allah SWT menyampaikan salawatnya kepada Nabi Muhammad SAW itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan salawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bersalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)

Sebelumnya Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT mengutus baginda SAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Baginda SAW datang dengan membawa rahmat yang mutlak untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman.

Allah SWT berfirman, "Dan aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta."

Sunday, September 2, 2012

NasiHAt LukMAnuL HakiM

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 10:34 PM 0 comments
Sedikit nasihat untuk dikongsikan bersama. Di antara nasihat Lukmanul Hakim dalam mendidik anaknya : 

1. Hendaklah engkau selalu berada di majlis para ulama' dan dengarlah kata-kata para hukama (orang yang bijaksana), kerana ALLAH menghidupkan jiwa yang mati dengan hikmat sepertimana menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang lebat.

2. Janganlah engkau jadi lebih lemah daripada seekor ayam jantan, ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan engkau pada ketika itu masih terbaring di atas katilmu.

3. Janganlah engkau menangguhkan taubat kepada ALLAH kerana mati itu akan datang tiba-tiba. 

4. Dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak orang sudah ditenggelamkannya. Oleh itu, jadikanlah taqwa sebagai kapalnya.

5. Pukulan bapa ke atas anaknya bagaikan air menyirami tanaman.

6. Tiga orang yang tidak dapat dikenali melainkan pada tiga keadaan. Orang yang lemah lembut melainkan ketika marah, orang yang berani melainkan ketika berperang dan saudara maramu melainkan ketika engkau berhajat dan memerlukan pertolongan daripadanya. 

7. Sesungguhnya dunia ini sedikit sahaja, sedangkan seluruh umurmu lebih sedikit daripada itu. Manakala umurmu yang masih berbakti lagi amat sedikit daripada yang lebih sedikit tadi. 


SolaT SUnAT DhUHa

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 9:02 PM 0 comments

Sejak kecil lagi saya selalu dengar tentang solat sunat dhuha. Istimewanya agama saya, ada solat sunat dhuha.
Saya suka sangat doa solat sunat dhuha. Sahabat yang disayangi, jom sama-sama kita usahakan untuk selalu dirikan solat sunat dhuha :)

Bagi tiap-tiap ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Setiap tasbih (Subhaanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (Laa Ilaaha Illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik juga sedekah, dan mencegah kemungkaran juga sedekah. Dan semua itu boleh diganti dengan dua rakaat solat Dhuha. - Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatul Musaafiriin wa Qashruha, no: 720.


Tuesday, August 28, 2012

Bila nak KaHWiN

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 11:34 PM 0 comments

Ada seorang remaja yang bertanya pada saya, bilakah MASA yang sesuai untuk dia berfikir tentang KAHWIN..

Jawab saya : Apabila kita mula rasa BERTANGGUNGJAWAB untuk mengurus kehidupan kita maka kita sebenarnya sudah BERSEDIA untuk itu. Itulah kunci bagi GERBANG PERKAHWINAN iaitu RASA TANGGUNGJAWAB dan KEMATANGAN.

Kata saya lagi, selagi kita rasa duit kita adalah duit kita dan KOS PENGAJIAN kita itu tanggungjawab ibu dan ayah kita maka TANGGUHKAN DULU untuk fikir tentang kahwin. Memang saya perhatikan hari ini ada pelajar-pelajar yang terima biasiswa atau pinjaman lalu mereka gunakan sepenuhnya untuk memenuhi MINAT dan KESUKAAN mereka : tukar HP, beli kamera ribuan ringgit dan sebagainya. Bahkan tidak terlintas difikiran mereka untuk MERINGANKAN BEBANAN ibu ayah mereka. Mereka ini, kata saya pada remaja yang bertanya tadi ; "Jika kahwin pun, bahagianya hanya SEKEJAP SAHAJA.."

RUMAHTANGGA bukan senda gurau..TANGGUNGJAWAB kita bertambah, AMANAH kita semakin BERAT bahkan bermacam-macam UJIAN yang sedang menunggu di perjalanan. Tetapi, jika kita mula serius memikirkan tanggungjawab kita sebagai anak, anggota masyarakat, hamba Allah dan pemimpin umat maka kamu sebenarnya sudah bersedia untuk memikirkannya walaupun UMUR kamu masih terlalu muda.

Statistik tahun 2007 menunjukkan setiap HARI, 56 pasangan yang BRCERAI dan kadar ini meningkat setiap tahun, bahkan kebanyakan kes perceraian ini melibatkan PASANGAN MUDA. Bukan ingin untuk menakut-nakutkan, sekadar memberi PERINGATAN supaya kita melihat PERKAHWINAN ini dengan PENGERTIAN yang lebih LENGKAP dan MATANG.

Mungkin ada yang merasakan perkahwinannya akan melepaskannya dirinya dari MASALAH ORANG BUJANG. Ya, selesai masalah bujang dan kita perlu bersedia untuk masalah dalam hidup berumahtangga pula. Bukankah hidup ini merupakan ujian?. Sebut tentang perkahwinan ini , terdapat 3 perkara yang dibincangkan oleh ulama semasa :

(1) Mahar yang tinggi : bahkan bukan-bukan.
(2) Aurat : masa tulah nak dedah semuanya.
(3)Tasyabbuh : bercampur perkara-perkara syubhah, meniru orang-orang kafir dan sebagainya. (Potong kek, pakai gaun ala kristian, bersanding ala hindu dan sebagainya.)

“Kita perlu ingat, jika kita tidak mulakan binaan rumahtangga dengan menjaga KEBERKATAN Allah, bila ada masalah nanti kita akan rasa SUKAR untuk bersimpuh mengadu kepadaNya. Memang segala masalah itu datang dari Allah tetapi untuk menadah tangan memohon KEKUATAN danPERTOLONGANNYA tidak semudah yang kita gambarkan. Ketika perahu dilanda gelombang tidak semua manusia dapat kembali pada rasa KEHAMBAAN untuk merendah diri memohon kepadaNya dan tidak semua suara yang berdoa itu dikenali oleh Allah untuk diperkenankanNya.” 
-Abu Umar-

>>> KESIMPULAN :
(1) Kita harus melihat pembinaan dan pembentukan rumahtangga dengan pandangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
(2) Kematangan, kedewasaan dan kebijaksanaan kita di dalam mengemudi kehidupan terletak sepenuhnya kepada kita. Kitalah yang akan membuat keputusan dan pemilihan.
(3) Memelihara jalan-jalan menuju pembentukan baitul muslim dan aspek-aspek keberkatan di dalam pembinaan rumahtangga adalah sesuatu yang serius dan harus dilihat dengan penilaiaan syara’.
(4) Penyerahan kepada jalan yang syara’ dan berusaha untuk menepati kehendak Allah SWT dalam melaksanakan pembinaan “masjid” ini adalah suatu perjuangan yang suci. Kita lah yang akan melakukan pemilihan, sama ada ingin mengikut trend, rentak dan penilaian masyarakat semasa atau mengikut sepenuh segala acuan dan trend yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Sama-sama kita menilai dengan sebaiknya..

by:someone

Al-Quran menjawab

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 11:32 PM 0 comments


KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?

QURAN MENJAWAB : "Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta." -Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA : KENAPA AKU TAK DAPAT APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?

QURAN MENJAWAB: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. " - Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

QURAN MENJAWAB: "Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. " - Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA : KENAPA RASA FRUST?

QURAN MENJAWAB: "Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org2 yg beriman. " - Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

QURAN MENJAWAB: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk " - Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?

QURAN MENJAWAB: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari org2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk mereka... ?" - Surah At-Taubah ayat 111

KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

QURAN MENJAWAB: "Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal." - Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA : AKU TAK DAPAT TAHAN!!

QURAN MENJAWAB: ".. dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir. " - Surah Yusuf ayat 12

do share as you please =)

Peringatan Untuk DIrI Saya Sendiri

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 11:29 PM 0 comments

Saya tak nak tag sesiapa pun sebab saya copy and paste post ni sebagai peringatan untuk diri saya sendiri.. sekiranya ada yang berminat untuk baca, dipersilakan :)
kalau ada yang nak copy atau share pun dipersilakan.

awak,ye, awak yang post gambar cun kat facebook dan sebagainya tu.
ye, awak yang comel dan pose ala-ala model gitu tu.
ye, awak jugak yang upload gambar senyum sweet sgt tu.

awak, awak jangan salah faham.
mmg la awak cun dan comel
dan saya ni ala-ala biasa-biasa je..
buat gaya yuna tak reti,
nak tiru hanata jima tak jadi.

tapi
bukan sebab tu saya tak berapa suka awak post gambar kat facebook tu.

bukan saya jealous
tengok bilangan like dan komen-komen jejaka-jejaka memuja memuji ciptaan Allah kat gambar-gambar awak tu.

bukanlah awak..

tapi,

saya tegur tu sebab saya tak mahu awak jadi bahan tontonan.

awak, kalau kita sayang barang,

kita akan simpan elok-elok kan?

ada ke kita nak bagi apa yang kita sayang tu,

sesuka hati, senang-senag je kat orang lain, orang yang kita tak kenal pulak tu.

ade ke awak?

awak tu cantik,

cantik tu nikmat tau wak.

cantik tu jugak ujian.

nikmat kalau tak pandai hargai, boleh jadi bala,

nikmat kalau tak pandai jaga, nanti ditarik balik.

ujian kalau tak kuat, nanti sia-sia.

awak, rugi tau kalau awak biar lelaki-lelaki yang ntah siapa-siapa tu,

tengok kecantikan awak tu senang-senang macam tu.

nanti awak dah tak special la.

awak,
betul ni,
walau saya tak secantik awak,
tapi,
saya tak cemburu.

saya cuma sedih,
tengok awak jadi bahan pameran dan pelampias nafsu lelaki.

saya cuma tak suka tengok awak jadi bahan tontonan lelaki.

dan saya benci bila lelaki kata,

awak yang tunjuk, diaorang tengok je la.

tengok tu, diaorang best2 tengok tenung awak, tapi last2 blame kan awak jugak

awak,
awak tetap cantik.
even kalau awak tak upload segala gambar segala bagai kat mana pun,
kecantikkan awak tu tak akan kurang.

Awak..
saya bukan cemburu!
tapi saya sayang awak :')

Wasiat

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 11:04 PM 0 comments

SEBELUM Imam Syafie pulang ke rahmatullah, beliau sempat berwasiat kepada para muridnya dan umat islam seluruhnya. Berikut ialah kandungan wasiat tersebut:

“Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan sepuluh perkara.”

PERTAMA: HAK KEPADA DIRI Iaitu: Mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.

KEDUA: HAK KEPADA MALAIKAT MAUT Iaitu: Mengqadhakan kewajipan-kewajipan yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang kita zalimi, membuat persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada Allah.

KETIGA : HAK KEPADA KUBUR Iaitu : Membuang tabiat suka menabur fitnah, membuang tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat Tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.

KEEMPAT: HAK KEPADA MUNKAR DAN NAKIR Iaitu : Tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.

KELIMA : HAK KEPADA MIZAN (NERACA TIMBANGAN AMAL PADA HARI KIAMAT) Iaitu : Menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesusahan.

KEENAM : HAK KEPADA SIRAT (TITIAN YANG MERENTANGI NERAKA PADA HARI AKHIRAT) Iaitu : Membuang tabiat suka mengumpat, bersikap warak, suka membantu orang beriman dan suka berjemaah.

KETUJUH : HAK KEPADA MALIK (PENJAGA NERAKA) Iaitu : Menangis lantaran takutkan Allah SWT, berbuat baik kepada ibu bapa, bersedekah secara terang-terangan serta sembunyi dan memperelok akhlak.

KELAPAN : HAK KEPADA RIDHWAN (MALAIKAT PENJAGA SYURGA) Iaitu : Berasa redha dengan Qadha’ Allah, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas nikmat Allah dan bertaubat dari melakukan maksiat.

KESEMBILAN : HAK KEPADA NABI SAW Iaitu : Berselawat ke atas baginda, berpegang dengan syariat, bergantung kepada as-Sunnah (Hadith), menyayangi para sahabat, dan bersaing dalam mencari keredhaan Allah.

KESEPULUH : HAK KEPADA ALLAH SWT Iaitu : Mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah manusia dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan

Sunday, May 20, 2012

Hukum Memegang Al-Quran Semasa Haid

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 1:24 AM 0 comments
Maaf kak, terlambat reply.. Actually saya tak cukup ilmu lagi untuk jawab soalan akak tu.. okey, disebabkan akak dah tanya, jadi saya pun mencarilah jawapannya.. ni apa yang saya dapat.. (sama2 kita kongsikan)



Pertama: Hukum memegang al-Qur’an.

Umumnya terhadap persoalan pertama terdapat dua pendapat, yang pertama mengatakan tidak boleh manakala yang kedua berkata boleh.

Pendapat yang pertama merujuk kepada firman Allah:


(al-Qur’an) Yang tidak disentuh melainkan oleh makhluk-makhluk yang diakui bersih suci. [1]


Dan sabda Rasulullah (s.a.w):


Tidaklah menyentuh al-Qur’an dan tidak juga mushaf melainkan orang yang suci.[2]


Manakala bagi pendapat kedua pula, mereka berpegang kepada kaedah bahawa seseorang wanita yang sedang haid boleh melakukan semua perkara seperti biasa melainkan wujud dalil yang tepat (qathi) yang melarangnya. Dalam hal ini yang jelas dilarang adalah bersolat, berpuasa, melakukan tawaf dan bersanggama. Adapun hukum memegang al-Qur’an, tidak ada dalil yang tepat yang melarang seseorang yang sedang haid daripada memegangnya.

Ayat al-Qur’an yang dijadikan rujukan oleh pendapat pertama adalah tidak tepat untuk dijadikan hujah kerana perkataan al-Mutatahharun sebenarnya merujuk kepada para malaikat sebagaimana yang boleh dilihat daripada keseluruhan ayat yang berkaitan:


Bahawa sesungguhnya itu ialah Al-Quran yang mulia, Yang tersimpan dalam Kitab yang cukup terpelihara, Yang tidak disentuh melainkan oleh makhluk-makhluk yang diakui bersih suci; Al-Quran itu diturunkan dari Allah Tuhan sekalian alam.[3]


Berkata Ibnu Abbas (r.a), fii Kitabim-maknun bererti di langit, yakni di al-Lauh al-Mahfuz manakala al-Mutatahharun adalah para malaikat yang suci.[4] Justeru keseluruhan ayat sebenarnya menerangkan tentang kitab al-Qur’an yang sebelum ini tersimpan dalam al-Lauh al-Mahfuz , di sana ia tidak disentuh oleh sesiapa kecuali para malaikat sehinggalah ia diturunkan ke bumi kepada manusia.


Hadis yang dijadikan dalil melarang adalah juga tidak tepat sandarannya kerana perkataan al-Taharun yang bererti suci adalah satu perkataan yang memiliki banyak erti (lafaz Mushtarak) dan mengikut kaedah Usul Fiqh: Sesuatu perkataan yang memiliki banyak erti tidak boleh dibataskan kepada satu maksud tertentu melainkan wujud petunjuk yang dapat mendokongi pembatasan tersebut.

Perkataan suci dalam hadis di atas boleh bererti suci dari najis seperti tahi dan air kencing. Boleh juga bererti suci dari hadas besar seperti haid dan junub, dan suci dari hadas kecil yakni seseorang yang dalam keadaan wudhu’. Ia juga boleh bererti suci dari sudut akidah sepertimana firman Allah terhadap orang-orang musyrik:


Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.[5]


Oleh itu seseorang itu perlu mencari maksud sebenar kepada perkataan suci dalam hadis di atas. Salah satu caranya ialah dengan mengkaji keseluruhan hadis di mana ia sebenarnya adalah sepucuk surat yang dihantar oleh Rasulullah (s.a.w) kepada seorang sahabat di Yaman. Di saat itu Yaman adalah sebuah wilayah yang penduduknya masih terdiri daripada campuran orang bukan Islam dan Islam, justeru mungkin sahaja surat tersebut bertujuan melarang al-Qur’an daripada disentuh oleh orang bukan Islam kerana sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.


Himpunan antara asal usul hadis dan rujukan al-Qur’an kepada orang musyrik sebagai najis dapat mengarah kepada satu petunjuk yang tepat bahawa erti suci dalam hadis di atas sebenarnya merujuk kepada orang Islam. Justeru keseluruhan hadis sebenarnya melarang orang-orang bukan Islam daripada memegang kitab atau mushaf al-Qur’an.


Akhirnya jika dianalisa antara dua pendapat di atas, diyakini bahawa yang lebih tepat adalah pendapat kedua yang membolehkan seorang wanita yang sedang haid untuk memegang al-Qur’an. Hal yang sama adalah bagi wanita yang sedang dalam keadaan nifas dan istiadah.


Kedua: Hukum membaca al-Qur’an.


Dalam persoalan ini terdapat sebuah hadis Rasulullah (s.a.w):

Seseorang yang dalam keadaan junub atau haid tidak membaca sesuatu apa jua dari al-Qur’an.[6]


Hadis ini memiliki beberapa jalan periwayatan namun setiap darinya adalah daif. Berkata Imam Nawawi: Adapun hadis Ibnu Umar: “Seseorang yang dalam keadaan junub atau haid tidak membaca sesuatu apa jua dari al-Qur’an” , maka ia diriwayatkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah, al-Baihaqi dan selainnya. Ia adalah hadis yang daif, didaifkan oleh al-Bukhari, al-Baihaqi dan selainnya. Kedaifan yang terdapat padanya adalah jelas.[7]


Namun sebahagian ahli fiqh tetap melarang seorang wanita yang sedang haid daripada membaca al-Qur’an kerana diqiyaskan keadaan haid kepada keadaan junub.[8] Namun pematukkan hukum ini tidak dianggap tepat kerana haid dan junub adalah dua keadaan yang jauh berbeza. Junub adalah satu keadaan di mana seseorang itu memiliki pilihan untuk berada dalamnya atau tidak, dan seseorang itu boleh keluar dari keadaan junub pada bila-bila masa melalui mandi wajib atau tayamum. Berbeza halnya dengan haid, ia bermula dan berakhir tanpa pilihan.


Sebahagian lain melarang atas dasar memelihara kesucian dan keagungan al-Qur’an. Justeru mereka berpendapat tidak boleh membaca (mentilawahkan) al-Qur’an kecuali beberapa perkataan atas dasar zikir dan memperoleh keberkatan.[9]

Pendapat ini juga dianggap kurang tepat kerana seseorang muslimah, sama ada dalam keadaan haid atau tidak, tetap dianggap suci dan dihalalkan bagi mereka semua yang dihalalkan melainkan wujudnya dalil yang sahih yang menegah sesuatu perkara seperti solat, puasa, tawaf dan bersanggama.

Adapun pensyari‘atan mandi wajib selepas berakhirnya tempoh haid, ia adalah penyucian atas sesuatu yang sedia suci dan bukannya penyucian atas sesuatu yang sebelum itu bersifat najis. Oleh itu tidaklah berkurang sedikitpun kesucian dan keagungan al-Qur’an apabila ia dibaca oleh seseorang muslimah yang sedang dalam keadaan haid.


Pernah sekali Abu Hurairah (r.a) mengasingkan diri daripada Rasulullah (s.a.w). Beliau balik ke rumah untuk mandi wajib dan kemudian kembali. Rasulullah bertanya kenapakah dilakukan sedemikian, lalu Abu Hurairah menerangkan bahawa tadi beliau sebenarnya dalam keadaan junub. Mendengar itu Rasulullah bersabda:
Subhanallah ya Abu Hurairah ! Sesungguhnya orang mukmin tidak ia menjadi najis.[10]


Kata-kata Rasulullah (s.a.w) di atas bersifat umum, menunjukkan bahawa seorang mukmin tidaklah ia sekali-kali akan berada dalam keadaan najis. Termasuk dalam keumuman hadis ini ialah wanita yang sedang haid.


Akhirnya berkata Imam Ibnu Taimiyah terhadap persoalan ini: Sesungguhnya adalah para wanita mereka mengalami haid di zaman Rasulullah (s.a.w), maka seandainya membaca al-Qur’an adalah diharamkan ke atas mereka (ketika haid) sepertimana solat, pasti baginda Nabi (s.a.w) akan menjelaskannya kepada umatnya.

Baginda akan mengajarnya kepada para Ummul Mukminun (para isteri baginda) dan akan dinukil daripada mereka oleh orang ramai. Akan tetapi tidak ada satupun (riwayat) yang melarang yang dinukil daripada Nabi (s.a.w). Oleh itu hal ini tidak boleh dianggap terlarang padahal telah diketahui bahawa baginda tidak melarangnya. Justeru jika baginda tidak melarangnya padahal ramai wanita yang haid di zamannya, maka sesungguhnya ketahuilah bahawa ia sebenarnya adalah tidak haram
.[11]


Oleh itu wanita yang sedang haid dibolehkan membaca al-Qur’an seperti biasa. Demikian juga bagi wanita yang berada dalam keadaan nifas dan istiadah. Kepada Allah kembali segala kebenaran.
Nota Kaki:


[1] Al-Waqiah (56): 79

[2] Sahih: Hadis daripada ‘Amru bin Hazm (r.a), dikeluarkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, Baihaqi dan lain-lain melalui beberapa jalan yang setiap darinya memiliki kelemahan. Namun setiap darinya saling menguat antara satu sama lain sehingga dapat diangkat ke taraf sahih, atau setepatnya sahih lighairihi. Lihat semakan Badri Abdul al-Samad dalam al-Ittihafu bitakhrij Ahadith al-Isyraf ‘ala Masail al-Ikhtilaf (Dar al-Buhts, Dubai 1999), jld 1, ms 77-82.

[3] Al-Waqiah (56): 77-80

[4] Demikian juga keterangan beberapa sahabat dan tabiin sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir al-Tabari dalam Jamii al-Bayan (Dar al-Fikr, Beirut 1999), riwayat no: 25955 – 25970. Lihat juga al-Mawardi - Al-Nukatu wa al-‘Uyun (Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut tp thn), jld 5, ms 463-464.

[5] al-Taubah (9): 28.

[6] Daif: Hadis daripada Abdullah ibnu Umar (r.a), dikeluarkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah, al-Daquthni dan lain-lain. Ia memiliki 3 jalan periwayatan yang semuanya daif. Nasiruddin Albani tidak menjadikannya penguat antara antara satu sama lain manakala Badri Abdul al-Samad berpendapat ia saling menguat sehingga dapat diangkat ke taraf hasan (hasan lighairihi). Lihat Irwa al-Ghaleel fi Takhrij Ahadith Manar al-Sabil (Maktabah al-Islami, Beirut), hadis no: 192 dan al-Ittihafu bitakhrij Ahadith al-Isyraf, jld 1, ms 83-84.

[7] Majmu’ Syarah al-Muhazzab (Dar Ihia’ al-Turath al-Arabi, Beirut 2001), jld 2, ms 123-125 (Kitab Taharah, Bab Apa yang mewajibkan mandi, Bab Hukum terhadap 3 perkara).

[8] Lihat Majmu Syarah al-Muhazzab jld 2, ms 267-268 (Kitab Haid, berkata al-Musannif: “Dan dilarang atasnya membaca Qur’an….”).

[9] Lihat al-Kasani – al-Bada‘i al-Sona‘i (Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut 1982), jld 1, ms 38 (Bab pemasalahan adab-adab wudhu’).

[10] Sahih: Ringkasan hadis daripada Abu Hurairah (r.a), dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, lihat al-Lu’ Lu’ wa al-Marjan (Fu‘ad Abdul Baqi; Dar al-Salam, Riyadh 1995) – no: 210.

[11] Majmu al-Fatawa 26/191 (Dar al-Wafa’, Kaherah 2001), jld 13, ms 104. Lihat juga pembahasan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (Dar Ihia al-Turath al-Arabi, Beirut tp thn), jld 1, ms 78-85 (Masalah no: 116: Membaca al-Qur’an dan bersujud dan menyentuh mushaf).

wallahua'lam

kredit to mohd suffian haji jaafar 

Sunday, May 13, 2012

Sedikit Ilmu Bukan Penghalang Untuk Berdakwah

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 7:14 AM 0 comments
Mungkin ada yang berdalih, “Aku tidak boleh berdakwah kepada orang lain kerana pengetahuanku sangat cetek tentang Islam.” Bagaimana menjawab pernyataan seperti itu?

Katakan kepadanya sabda Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Ceritakanlah kisah Bani Israil tanpa ragu-ragu. Barangsiapa berdusta dengan atas namaku maka bersiaplah mendapat tempat di neraka.”
[HR Tirmidzi dan Ibnu Umar]


Walau hanya memahami satu ayat, sampaikanlah kepada orang lain. Walau mendapatkan ilmu dari khutbah Jumaat, sampaikanlah pula kepada orang lain. Jika menghadiri pengajian majlis taklim, datangilah sanak saudara lalu ceritakanlah apa yang anda dapatkan dari pengajian tersebut.

Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata, “Orang yang mengetahui suatu permasalahan, ia dianggap pakar di bidang itu.”

biasanya orang muda mungkin mengajukan alasan yang lain, “Aku belum lama pakai tudung/belajar ugama dan masih banyak dosa yang menghalangiku untuk berdakwah kepada teman-temanku.”

Sekali lagi jangan jadikan dosa anda sebagai penghalang untuk berdakwah.


Allah SWT berfirman,

“Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu sendiri). "
[Al Baqarah : 44]


Yang dilarang oleh ayat itu adalah melupakan diri sendiri. Akan tetapi bilakah waktunya berdakwah menjadi haram? iaitu ketika anda menyuruh orang lain berbuat kebaikan sementara anda tidak berusaha mengerjakannya. Sebagai contoh, seseorang belum boleh ghaddul bashar (menundukkan pandangannya) dan ia melihat orang lain tidak menundukkan pandangannya. Apakah harus melarangnya atau tidak? Tentu saja harus melarangnya. Katakan kepada orang itu, “Hai Fulan, tundukkan pandanganmu”, dan katakan kepada diri anda sendiri, “Ya Allah, saksikanlah, mulai saat ini aku akan menjaga pandanganku.” 

Berdakwah sesungguhnya membantu anda dalam memperbaiki diri Anda sendiri. Andalah yang lebih dahulu mengambil manfaat darinya. Oleh kerana, jika ingin memperbaharui iman, berdakwahlah! Setahap demi setahap keimanan itu akan kembali terbaharui.
 

Imam Ibnu Taimiyah berkata, “jangan sekali-kali kalian berkata, “Aku tidak akan berdakwah sampai keimananku betul-betul sempurna.” Sesungguhnya orang itu dihadapkan kepada dua pilihan. Boleh jadi suatu hari nanti ia akan mengatakan “Imanku telah sempurna,” ketahuilah bahwa dengan berkata seperti itu, sesungguhnya ia telah atau ia akan menemui ajalnya sementara imannya belum juga sempurna.” 

Bagaimana penyelesaiannya? Berdakwahlah dengan keimanan anda dengan seadanya. Menyebarkan Islam adalah tanggung jawab kita semua.


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
[Ar Ra’d: 11] 

Islam tidak akan tampil memimpin dengan pedang, senjata dan perang. Islam hanya akan jaya dengan apa yang telah Rasulullah SAW rintis. Beliau dahulu seorang diri di muka bumi kemudian mencari pendamping. Mulailah Rasulullah SAW mendakwahi Abu Bakar ra. Mereka berdua muncul dan teguh di tengah-tengah msayarakat kafir ketika itu. Bagaimana dengan anda? Bukankah satu seperempat juta penduduk bumi ini sudah beridentitikan Muslim?

Abu Bakar masuk Islam dan berhasil merekut 7 orang lainnya. Dari 7 orang bertambah menjadi 70 orang. Enam orang penduduk Madinah mendatangi Rasulullah SAW, mereka berjanji, “Tahun depan kami akan kembali.” Mereka pun kembali tahun berikutnya sebanyak 12 orang. Satu tahun setelah itu jumlah mereka mencapai 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Nabi SAW menyuruh mereka kembali,” Pulanglah dan aku akan menemui kalian tahun depan.” Pada tahun yang dijanjikan itu, Nabi berhijrah dan tak satu rumah pun yang tersisa kecuali seluruh penghuninya telah memeluk Islam.

Permasalahannya mudah dan sederhana. Ajaklah dengan penuh berhikmah orang disamping anda dengan keimanan anda seadanya! 

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih (diantara kamu) bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”
[An Nur : 55] 


sumber : Romantika Yusuf, Amru Khalid, Maghfirah Pustaka, 2004

Tempoh Penyusuan Mengikut Al Quran

Posted by Ayesha Abdul Mannan at 6:56 AM 0 comments

Terdapat banyak faedah kepada kedua-dua ibu dan bayi apabila kita mengamalkan penyusuan bayi secara natural. Kita disaran memberi susu ibu kepada bayi sehingga bayi berusia sekurang-kurangnya 6 bulan tanpa makanan sampingan lain, tanpa susu formula lain dan tanpa diberi air masak pun kepada bayi.

Susu ibu kaya dengan antibodi serta hormon-hormon yang mampu memberi perlindungan kepada bayi daripada masalah usus (gastrousus), jangkitan pada pernafasan, jangkitan telinga, alahan makanan, kerosakan gigi, pneumonia dan meningitis. Ia juga menggalakkan pertumbuhan pembentukan otot-otot muka dan rahang.

Kajian terbaru yang dijalankan oleh Profesor Catharina Svanborg, seorang pensyarah imunologi dari Universiti Lund, Sweeden, susu ibu membantu untuk mencegah bayi dari mendapat kanser.“Zat yang disebut alpha-lac (alphalactalbumin), yang terdapat dalam jumlah besar di dalam susu ibu, yang mengenali keberadaan sel-sel kanser dan membunuhnya”.

Manusia berusaha untuk mencari cara melawan kanser dengan rawatan kimoterapi dan berbagai-bagai cara lain, namun Allah terlebih dahulu telah menunjukkan kepada kita cara untuk melawan penyakit berbahaya ini.

Satu lagi penelitian yang dilakukan oleh James W. Anderson, ahli University Kentucky – IQ bayi yang diberi susu ibu lebih tinggi 5 tahap daripada bayi lain. Susu ibu yang diberikan hingga 6 bulan bermanfaat bagi bayi, manakala anak yang disusui kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat kepada IQ.

Untuk mereka yang bakal bergelar seorang ibu, fakta ini amat berguna bagi anda. Lihatlah bagaimana Al-Quran menerangkan kepada kita sebab untuk seseorang ibu menyusukan anaknya selama 2 tahun. Dan lihatlah bagaimana kajian saintifik membawa kepada kebenaran dan kebaikan yang dibawa Kalam Allah ini,ini menunjukkan kepada kita Al-Quran mendahului penemuan saintifik sejak 1400 tahun berabat yang lalu.


Menyusu bayi juga baik untuk ibu, antaranya ialah:

- Akan merembeskan sejenis oksitosin dimana hormon tersebut membantu mengecutkan rahim dan mengembalikan rahim ke bentuk asal. 

- Ia juga membantu mengurangkan berat badan sehingga 500 atau lebih kalori sehari dengan aktiviti tersebut. 

- Ia juga mengurangkan risiko terkena kanser payudara, pre-monopouse, kanser ovari dan osteoporosis. 

Selain itu, jika mampu memberi susu ibu kepada bayi secara natural, ianya lebih mudah. Tidak perlu untuk membasuh botol-botol susu dan ianya boleh diberikan dimana-mana dan bila-bila masa.

Allah menjadikan susu ibu khas untuk keperluan bayi dengan jumlah dan faedah yang sangat mencukupi. Ia mengandungi kuantiti yang paling tepat seperti nutrient, protein, lemak dan karbohidrat untuk bayi.

Tiada susu yang setanding susu ibu untuk diberikan kepada bayi. Jika penyusuan dilakukan secara natural, ia mampu mengeratkan hubungan antara ibu dan anak. Ia merupakan sentuhan kulit dan rangsangan tersebut turut dirasai bayi.

Di dalam Islam ada menyatakan bahawa besar pahalanya seorang ibu yang menyusukan anaknya. Ia menyebut bahawa demi kesihatan anak, ibu hendaklah menyusukan anak dengan susu ibu. Sejajar dengan firman Allah di dalam Al-Quran Surah Al-Bakarah Ayat 233 yang bermaksud:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, iaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”

Imam Syafie berkata, “Sihat atau tidak anak itu bergantung sama ada anak disusui ibu atau tidak walaupun sekali susuan”

Kelebihan dan fadhilat menyusukan anak

1. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

2. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun) dan beramal soleh tidak melangar perintah Allah dan taat kepada suaminya, maka maalaikat-maalaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajib baginya.

3. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

4. Susu ibu menjadikan anak lebih sihat daripada terkena penyakit terutama selsema dan batuk, InsyaAllah.

5. Dengan memberi air susu ibu kepada anak, pengaruhnya sangat besar terhadap perkembangan dan kesihatan fizik dan jiwa anak.

6. Jika semalaman ibunya tidak tidur kerana menjaga anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T memberi pahala seperti memerdekakan 70 hamba ke jalan Allah.


Begitulah sayangnya Allah pada wanita yang bergelar IBU.


Dalil Penyusuan Bayi Selama Dua Tahun


15. Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya Dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya Dengan menanggung susah payah.
 sedang tempoh mengandungnya beserta Dengan tempoh menceraikan susunya ialah Dalam masa tiga puluh bulan. setelah ia besar sampai ke peringkat dewasa Yang sempurna kekuatannya dan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun, berdoalah ia Dengan berkata: "Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatMu Yang Engkau kurniakan kepadaKu dan kepada ibu bapaku, dan supaya Aku tetap mengerjakan amal soleh Yang Engkau redai; dan Jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke Dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu, dan Sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadaMu)". – Al Ahqaf 15



6 bulan; tempoh minumun mengandung

24 bulan = 2 tahun: tempoh menyusu bayi…. Bersamaan 30 bulan!



14. Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya Dengan menanggung kelemahan Demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya),
 dan tempoh menceraikan susunya ialah Dalam masa dua tahun; (dengan Yang demikian) bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan). Luqman 14


233. Dan ibu-ibu hendaklah menyusukan anak-anak mereka selama dua tahun genap Iaitu bagi orang Yang hendak menyempurnakan penyusuan itu; dan kewajipan bapa pula ialah memberi makan dan pakaian kepada ibu itu menurut cara Yang sepatutnya. tidaklah diberatkan seseorang melainkan menurut kemampuannya. janganlah menjadikan seseorang ibu itu menderita kerana anaknya, dan (jangan juga menjadikan) seseorang bapa itu menderita kerana anaknya; dan waris juga menanggung kewajipan Yang tersebut (jika si bapa tiada). kemudian jika keduanya (suami isteri mahu menghentikan penyusuan itu Dengan persetujuan (yang telah dicapai oleh) mereka sesudah berunding, maka mereka berdua tidaklah salah (melakukannya). dan jika kamu hendak beri anak-anak kamu menyusu kepada orang lain, maka tidak ada salahnya bagi kamu apabila kamu serahkan (upah) Yang kamu mahu beri itu Dengan cara Yang patut. dan bertaqwalah kamu kepada Allah, serta ketahuilah, Sesungguhnya Allah sentiasa melihat akan apa jua Yang kamu lakukan. Al Baqarah 233


Walau apapun fakta sains dan kajian yang dibuat; tidak boleh mengatasi jadual menyusu mengikut AL QURAN.
Tempoh mengandung adalah 6 bulan: tempoh mengandung minimun adalah 6 bulan . tolak dengan 30 bulan maka tinggal 24 bulan bersamaan dua tahun.. mengandung 6 bulan menyusu 24 bulan bersamaan = 30 bulan....

wallahu’alam….

 

The Pieces Of Life Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal